BAB III
KONSEPTUALISASI MASALAH PENELITIAN
A. Perumusan Masalah
Konseptualisasi adalah proses pembentukan konsep dengan bertitik tolak pada gejala-gejala pengamatan. Proses ini berjalan secara induktif, dengan mengamati semua gejala secara individual, kemudian merumuskannya dalam bentuk konsep. Konsep bersifat abstrak, sedangkan gejala bersifat konkret. Konsep berada dalam bidang logika (teoritis) sedangkan gejala berada dalam dunia empiris (factual). Memberikan konsep pada gejala itulah yang disebut dengan konseptualisasi. Konsep bersifat abstrak dan dibentuk dengan menggene-ralisasikan hal-hal yang khusus. Babbie mengatakan sebagai the process trough which we specify precisely what we mean when we use particular terms (proses dengan mana kita memberi nama yang khusus secara tepat apa yang menggambarkan apa yang kita maksudkan).
Proses ini diawali dengan mengungkapkan permasalahan penelitian, latar belakangnya, perumusannya, dan signifikansinya. Masalah sebagai kesenjangan yang ada diantaranya kenyataan dan harapan perlu dirumuskan secara eksplisit. Masalah tersebutt dapat ditangkap dari keluhan-keluuhan yang ada dalam lingkungan sosial yang bersangkutan. Gejala-gejala khusus dari masalah ini diungkapkan secara jelas, untuk kemudian konsepnya dirumuskan secara operasional. Akhirnya perlu juga diungkapkan mengapa masalah itu penting untuk diteliti, baik biasa mengukuhkan teori yang ada, atau menyangkalnya, atau merevisinya. Sedangkan kepentingan prktis berhubungan dengan pentingnya penelitian itu dalam pengembangan program atau pekerjaan tertentu.
Konseptualisasi penelitian tidak hanya merumuskan masalah, tetapi juga mengungkapkan cara-cara tentang bagaimana masalah tersebut akan diteliti. Dengan demikian terdapat dua masalah pokok yang akan dijelaskan dalam konseptualisasi penelitian, yaitu penjelasan tentang substansi yang diteliti (aspek substantife), dan penjelasan tentang khusus dalam perencanaan penelitian (research design). Suatu masalah dapat dilihat dari dua aspek, yaitu aspek empiris dan aspek logis atau rasional. Suatu peristiwa dapat disebut sebagai masalah jika terdapat kesenjangan antara apa yang ada dan apa yang seharusnya, antara kenyataan yang ada dan apa yang diharapkan. Dilihat dari apa yang diharapkan, masalah dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori, yaitu :
1. masalah filosofis,
2. masalah kebijakan,dan
3. masalah ilmiah.
Suatu masalah dikatakan masalah filosofis jika gejala-gejala empirisnya tidak sesuai dengan dengan pandangan hidup yang ada dalam masyarakat. Gejala-gejala hubungan seks sebelum nikah dikalangan remaja termasuk dalam kateori ini, karena nilai-nilai yang berlaku dikalangan remaja tidak sesuai dengan norma-norma keagamaan yang dianut oleh masyarakat.
Masalah yang tergolong dalam masalah kebijakan adalah perilaku-perilaku atau kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sipembuat kebijakan.
Masalah yang tergolong dalam kategori masalah ilmiah adalah kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan teori ilmu pengetahuan. salah satu teori dalam ilmu pendidikan yang dikenal dengan “teori hukuman” mengatakan bahwa hukuman yang diberikan kepada anak akan mengubah perilakunya kea rah yang positif. Tetapi dalam kenyataannya, anak-anak yang diberi hikuman itu menanamkan dendam terhadap gurunya. Masalah seperti ini termasuk masalah ilmiah.
Masalah sosial menampakkan diri pada conflict issue yang dapat ditangkap dari peristiwa-peristiwa yang ada dalam masyarakat. Isu-isu seperti itu ditangkap melalui pengamatan langsung,atau dari surat kabar, atau media massa lainnya, atau dari pokok-pokok pembicaraan yang berkembang dalam masyarakat. Pertanyaan –pertanyaan yang kita ajukan membantu kita mengetahui pokok permasalan dari isu tersebut. Seperangkat gejala umum perlu dipelajari untuk bias menemukan isu seperti “demokrasi”, “kualitas sumber daya manusia”, “pengangguran dikalangan generasi muda”, “kualitas pendidikan,” dan sebagainya. Bertitik tolak dari isu tersebut kita berusaha merumuskan masalah yang menjadi focus penelitian. Perlu pula disadari, bahwa dari suatu isu yang pragmtis itu dapat ditarik berbagai masalah, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Disinilah penting teori sebagai acuan kita dalam melihat masalah. Dari perangkat proposisi yang ada dalam teori tersebut kita memilih yang sesuai dengan isu dan yang cukup menarik minat.
Untuk merumuskan masalah dengan seperti itu, perlu diperhatikan dua pertanyaan pokok yang membantu mem-perjelas masalah, yaitu:
1. Pertanyaan tentang mengapa masalah itu penting. Untuk menjawab pertanyaan itu perlu diungkapkan latar belakang permasalahannya.Perlu dijajaki pula berbagai penelitian yang pernah dilakukan menyangkut masalah tersebut. Dari penjajakan itu kita mengungkapkan signifikansi atau pentungnya penelitian yang dilakukan.
2. Apa masalahnya. Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dilakukan penjajakan di sekitar lokasi penelitian, dan dari penjajakan ini kita mengungkapkan gejala-gejala khusus dari setiap individu yang bermasalah.
Contoh-contoh perumusan masalahan dalam bentuk pertanyaan : (1) Mengapa mutu pendidikan di lembaga-lembaga pendidikan kita semakin merosot? (2) Mengapa lulusan perguruan tinggi di wilayah X sukar mendapat pekerjaan? (3) Apa kesulitan guru muda dalam melaksanakan profesinya sebagai guru di kelas?
B. VARIABEL
Sebelumnya telah disebutkan bahwa konseptulisasi adalah proses memberi konsep pada gejala-gejala yang dipermasalahkan. Konsep bersipat abstrak, tetapi menunjuk pada objek-objek tertentu yang konkret. Objek yang konkret itu bersifat individual,yang berbeda satu dengan yang lain. Jika kita mengamati orang-orang yang kita jumpai, maka tidak ada dua orang yang sama persis di antara mereka. Setiaporang berbeda dengan yang lain. Mereka dapat dibedakan dengan nama masing-masing. Jadi manusia adalah konsep, dan konsep itu tidak hanya menunjuk pada seseorang, tetapi juga pada orang lain yang mempunyai kemiripan dengan mereka. Sifat dari objek-objek yang berbeda-beda itu adalah:
1. Mempunyai cirri umum yang sama, yang membuat mereka mirip satu sama lain, sehingga semuanya dapat ditampung dalam satu definisi.
2. Setiap objek berbeda, masing-masing mempunyai ciri tersendiri yang membedakannya dengan objek lain. Perbedaan-perbedaan itulah yang membuat objek-objek itu bervariasi, karena itu disebut variabel.
3. Perbedaan-perbedaan pada setiap objek terletak pada ukuran masing-masing, baik ukuran yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif. Karena ukuran yang berbeda itulah maka konsep itu disebut variabel, seperti yang dikatakan oleh kalinger, “variables is a propery that takes on different values…A variabel is a symbol which numerals or values are assigned. “Misalnya, kerajinan belajar mahasiswa dapat kita lihat pada banyaknya waktu yang dipakai oleh setiap mahasiswa setiap minggunya untuk mempelajari bidang studinya. Apabila tolok ukur ini diterapkan pada setiap mahasiswa, akan tampak keragaman dalam penggunaan waktu setiap mahasiswa.
Suatu konsep disebut variabel jika ia menampakkan variasi pada objek-objek yang ditunjuknya. Jadi, konsep bukan variabel jika tidak tampak variasi pada objek-objek itu. Misalnya, almamater mahasiswa STAI Sukabumi bukanlah variabel, karena semua mahasiswa mempunyai almamater yang sama, yaitu STAI Sukabumi.
Diantara konsep yang abstrak dan objek-objek individual yang konkret terdapat suatu penghubung yang menunjukkan objek-objek mana yang dapat dimasukkan kedalam konsep yang bersangkutan. Misalnya, orang yang telah terdaftar untuk mengikuti pelajaran disuatu pergurun tinggi dapat diketahui dari kartu mahasiswanya yang masih berlaku. Dengan kartu mahasiswa itu dapat diketahui siapa yang dimaksud denga mahasiswa. Dalam hal ini kartu mahasiswa itu disebut indikator empiris terhadap konsep mahasiswa.
Indikator empiris ini sifatnya dapat diamati. Suatu indikator empiris belum tentu dapat menunjukkan seluruh makna yang terkandung dalm konsep tertentu . Misalnya,” sepeda” dengan indikatornya adalah “kendaraan roda dua.” Tetapi bukankah ada juga sepeda roda tiga, seluruhnya menangkap konsep “sepeda.” Oleh karena itu, suatu konsep bias memiliki lebih dari satu indikator empiris. Hubungan antara konsep dan indikator disebut korelasi epistemic.
Dengan indikator empiris kita merumuskan variabel secara operasional. Definisi operasional dirumuskan sedemikian rupa sehingga ia bisa berfungsi sebagai petunjuk untuk menemukan data yang tepat dalam dunia empiris. Misalnya kita melihat empat buah bilangan, yaiti 2, 4, 6, dan 8. Sekarang kita rumuskan dalam satu istilah keempat bilangan itu. Kalau disimpulkan keempat bilangan itu adalah bilangan genap dengan definisi bilangan yang habis dibagi dua, maka apakah dengan definisi tersebut dapat kita temukan kembali keempat bilangan itu.
Memang keempat bilangan iu adalah bilangan genap, tetapi tidak semua bilangan genap tersebut termasuk dalam pengamatan kita. Perhatikan kembali konseptualisasi dari babbie : “… the process through which we specity precisely what we man use particular terms. “Merumuskan istilah yang tepat, tidak berkelebihan dan tidak berkekurangan. Definisi bilangan genap pada pengamatan di atas adalah definisi berkelebihan, tidak tepat. Definisi yang tepat untuk pengamatan 2, 4, 6, dan 8 adalah “bilangan kelipatan dua di bawah 10.” Dengan definisi ini, maka tidak ada yang lain kecuali 2, 4, 6, dan 8. Bukan 2, 4, 10, dan 12, karena ada bilangan yang tidak memenuhi definisi.
Definisi operasional suatu variabel tidak boleh dirumuskan dalam bentuk sinonim. Kalau definisi variabel kerajinan belajar dirumuskan sebagai “kerajinan belajar adalah ketekuna siswa untuk mempelajari bahan pelajaran,” maka di sini terdapat dua istilah setara, yaitu kerajinan dan tekunan. Seharusnya istilah ketekunan berfungsi sebagai penjelas bagi kerajinan, karena itu seharusnya ia bukan konsep, sama dengan kerajinan yang juga adalah konsep. Jadi, ketekunan sinonim dengan kerajinan.
Istilah kerajinan harus diterangkan dengan indikator. Ciri dari indikator adalah teramati dan terukur. Dengan menggunakan indikator tersebut, kita merumuskan variabel kerajinan belajar sebagai berikut: “kerajinan belajar adalah banyaknya waktu yang di ukur dalam jam per minggu yang dipergunakan oleh mahasiswa untuk membaca bahan-bahan yang relevan dengan program studinya.” Dengan menggunakan indikator tersebut,kita merumuskan variabel kerajinan belajar sebagai berikut: “kerajinan belajar mahasiswa adalah banyaknya waktu yang diukur dalam jam per minggu yang dipergunakan mahasiswa untuk membaca bahan-bahan yang relevan dengan program studinya. “di sini kegiatan membaca adalah indikator, dan jumlah jam adalah pengukuran. Tampak bahwa definisi operasional terhadap variabel atau konsep ini berbeda dengan definisi yang ditemukan dalam buku teks atau dalam kamus.Definisi dalam buku-buku teks atau kamus itu disebut definisi konstitutif atau definisi nominal
1.Variabel Dependen dan Variabel Independen
Variabel dependen disebut juga variabel tidak bebas, dan variabel independent disebut variabel bebas.suatu variabel disebut dependen atau tidak bebas.Jika nilai atau harganya ditentukan oleh satu beberapa variabel lain. Dalam hubungan ini variabel lain itu disebut variabel ias dent atau variabel bebas.
3. Variabel Kontinu dan Variabel Deskrit
Kedua jenis variabel ini berbeda dalam cara peng-ukurannya. Variabel kontinu dapat diukur dengan bilangan kontinu, sedangkan bilangan deskrit hanya ias diukur dengan bilangan deskrit. Variabel-variabel berat, panjang dan umur termasuk variabel kontinu karena dapat diukur dengan bilangan real seperti 1, 12; 2, 045 ;5, 00569, dan sebagainya. Sedangkan jumlah orang adalah variabel deskrit yang hanya dapat diukur dengan bilangan bulat seperti 1, 2, 4, dan seterusnya.
C. Skala Pengukuran
Selain bias diamati, sifat kedua dari indikator empiris adalah dapat diukur pada skala tertentu. Pengukuran itu paling sedikit bertujuan untuk membedakan yang satu dengan yang lain, misalnya bila yang satu lebih besar atau lebih kecil dari yang lain. Untuk melakukan tugas pengukuran dibutuhkan alat, dan pada alat itu terdapat skala yang dapat diterapkan pada setiap objek yang akan diukur.Alat ukur yang dipakai untuk mengukur objek haruslah konsisten sehingga hasilnya dapat dipercaya. Kalau kita mengikur panjang suatu objek tertentu dengan jengkal orang dewasa,maka tidak konsisten jika untuk mengukur objek lain dipergunakan jengkal anak-anak. Selain itu, alat ukur yang dipakai haruslah valid, jangan misalnya mengukur panjang dengan liter, atau mengukur panas dengan timbangan berat.
Dengan syarat-syarat seperti ini maka pengukuran adalah suatu proses pemberian angka pada setiap objek dalam skala tertentu. Mengukur suatu variabel dapat dilakukan pada salah satu dari 4 skala pengukuran, yaitu:
1. skala nominal
2. skala ordinal
3. skala interval
4. skala ratio
1. Skala Nominal
Skala nominal ini dapat diterapkan pada setiap variabel karena skala ini berfungsi untuk membedakan. Setiap objek pada variabel yang diukur adalah setatar,namun berbeda satu dengan yang lain.Status seks adalah suatu variabel yang apabila diterapkan pada setiap objek maka ada dua jenis macam jenis seks yang mempunyai derajat yang sama, yaitu leki-laki dan perempuan. Membedakan antara laki-laki dan perempuan adalah skala nominal. Tolok ukur yang dipakai untuk mengukurnya adalah indikator empiris dan variabel yang bersangkutan. Variabel ini mempunyai dua kategori (atau kelas) yang sama derajatnya. Untuk itu disediakan dua angka, yaitu angka 1 untuk laki-laki, dan angka 2 untuk perempuan, atau sebaliknya. Angka ini tidak menunjukkan bahwa 2 lebih besar daripada 1, atau 1 lebih utama daripada 2. Angka 1 dan 2 hanyalah simbol untuk membedakan dua hal yang sama.
Contoh-contoh ini menjelaskan ciri-ciri dari skala nominal, yaitu:
1. bersifat deskriminatif (membedakan)
2. bersifat ekualitas dalam arti bahwa kategori-kategori dalam variabel itu adalah sama
3. Simetris dalam arti bahwa angka 1 dapat diukur dengan angka dua
4. Pengategoriannya bersifat tuntas, maksudnya:
• Setiap objek hanya ias dimasukkan ke dalam salah satu kategori (kelas) sehingga tidak ada overlopping,
• Semua objek harus bias dimasukkan kedalam salah satu kategori.
2. Skala Ordinal
Seperti halnya skala nominal, skala ordinal juga menunjukkan perbedaan antara kategori yang satu dengan kategori yang lainnya. Namun, perbedaan itu bukan perbedaan yang setatar, tetapi perbedaan jenjang atau tingkat. Kalau variabelnya adalah “status ekonomi,” maka kategori-kategorinya adalah:
1. Kelas ekonomi lemah,diberi angka 1;
2. Kelas ekonomi menengah, diberi angka 2;
3. Kelas ekonomi tinggi, diberi angka 3. angka 1,2, dan 3 bukan membedakan hal yang sama, tetapi perbedaan jenjang. Selisih antara 2 dan 3tidak selalu sama dengan selisih antara 2 dan 1. Oleh karena itu, bilamgan-bilangan itu tidak bias dijumlahkan atau dikurangkan.
3. Skala Interval
Skala pengukuran ini menunjukkan pula perbedaan seperti pada skala nominal dan skala ordinal. Perbedaannya adalah bahwa interval antara 1 dan 2, antara 2 dan 3, dan seterusnya adalah sama. Misalnya, variabel “umur” yang dapat diukur dalam tahun. Karena itu, terhadap bilangan-bilangan itudapat dilakukan pekerjaan penambahan atau pengurangan. Ciri lain dari skala ini adalah titik nolnya bersifat arbitrer.
4. Skala Ratio
Skala ini sama dengan skala interval, kecuali bahwa titik nolnya bersifat mutlak. Berat yang diukur dengan gram mempunyai titik nol yang sama di mana saja dan kapan saja. Karenaitu sifatnya multiplier.
Dilihat dari segi kehalusan pengukuran, skala ratio adalah yang paling tinggi, disusul dengan skala interval, kemudian skala ordinal, dan yang terakhir adalah skala nominal.Oleh karena itu, skala ratio dapat diubah pada skala interval, skala interval dapat diubah pada skala ordinal, dan skala ordinal dapat diubah pada skala nominal. Akan tetapi, pada umumnya, skala nominal tidak bias diubah pada skala ordinal, dan skala ordinal tidak bias diubah pada skala interval, dan skala interval tidak bias diubah pada skala ratio.
Ciri-ciri Skala Pengukuran
Skala Pengukuran Ciri Operasional Matematika Contoh
Nominal Klasifikasi
Pembedaan setara
Tuntas Simetri
A=B
B=A 1. Agama:
Kristen, Katolik,
Islam, Hindu,
Buddha
2. Nomor kamar di
Asrama
Ordinal Klasifikasi Pembedaan
Berjenjang Interval
Tidak sama tuntas Asimetri
A>B>C
CC-B≠B-A 1. Status sosial
2. Pendidikan
Interval Pembedaan interval
Sama Titik nol :
arbitrer N’ = cN = K
C : Koefisien
K : Bilangan Konstan Skor : 45, 75, 80
Ratio Sama dengan interval
+ titik nol mutlak N’ = cN Berat : 7kg, 8kg, 9kg
Senin, 08 Maret 2010
Selasa, 02 Maret 2010
PENELITIAN SEBAGAI PROSES ILMIAH
PENELITIAN SEBAGAI PROSES ILMIAH
Pada mulanya penelitian merupakan penyaluran hasrat keingintahuan manusia terhadap sesuatu. Sesuatu itu adalah gejala-gejala alam,atau gejala-gejala perilaku manusia,atau gejala-gejala pemikiran dan kerohanian. Gejala-gejala itu, secara keseluruhan adalah kehidupan ciptaan Tuhan. Selanjutnya penelitian itu menjadi kegiatan ilmiah, yang memiliki cakupan tersendiri dan berhubungan dengan kegiatan lainnya.
Penelitian memiliki berbagai perlengkapan, yang secara garis besar terdiri atas unsur-unsur informasi dan unsure-unsur metodologi. Penelitian dilengkapi dengan unsur-unsur informasi tentang sesuatu itu yang beraneka ragam dan hirarkial, dari yang kongkret sampai yang abstrak; mulai dari gejala dan fakta sampai konsep, hipotesis, dan teori; bahkan hokum teori dan dalil. Ia juga dilengkapi dengan berbagai metode pada tiap tahapan kegiatan, sehingga menjadi cara kerja ilmiah yang memiliki tarap ketepatan dan kecermatan yang tinggi. Akhirnya, ia menjadi pranata sosial dalam memenuhi salah satu kebutuhan manusia dalam pergaulan hidup mereka. Ia menjadi tulang punggung dalam pengembangan pengetahuan ilmiah dan dapat menyumbangkan jasa bagi kehidupan manusia.
Apabila penelitian itu akan dilakukan, ada tiga pertanyaan yang amat penting. Ketiga pertanyaan itu memerlukan jawaban sebelum penelitian itu dirancang dan dipersiapkan. Pertanyaan pertama, “Apa yang akan diteliti? “Apabila pertanyaan itu sudah dijawab, muncul pertanyaan kedua, “Bagaimana penelitian itu akan dilakukan? “ Apabila kedua pertanyan itu telah dijawab, muncul pertanyaan ketiga, “Untuk apa penelitian itu dilakukan?”
Pertanyaan pertama berkenaan denan masalah penelitian, yang bertitik tolak dari wilayah penelitian (research area). Sedangkan wilayah penelitian berada dalam cakupan dan batasan bidang ilmu tertentu. Berkenaan dengan hal itu, diperlukan penentuan wilayah penelitian dalam bidang ilmu tersebut. Dengan cara demikian, akan mempermudah dalam menentukan unsure-unsur informasi,seperti masalah penelitian, kerangka berfikir, konsep, dan variabel (peubah) penelitian.
Pertanyaan kedua berkenaan denga unsur-unsur metodologi yang tercakup di dalam bidang ilmu itu. Unsur-unsur metodologi itu mencakup, antara lain, penentu metode penelitian, penentu sumber data, cara pengumpulan data, dan pemilihan model analisis data. Metode penelitian, misalnya, sangat beraneka ragam. Masing-masing metode memiliki kecocokan dengan wilayah dan masalah penelitian tertentu. Disamping itu, ia memiliki ciri, kekuatan dan kelemahan, serta tahapan, masing-masing. Berkenaan dengan hal itu, dalam setiap kegiatan penelitian, peneliti dituntut untuk memilih metode penelitian yang sesuai dan paling tepat.
Pertanyaan ketiga berkenaan dengan kegunaan atau signifikasi penelitian. Secara umum, signifikasi penelitian itu terdiri atas dua macam.
Pertama, penelitian yang diarahkan untuk mengembamgkan pengetahuan ilmiah, baik unsur-unsur informasinya maupun unsur-unsur metodologinya. Kedua, penelitian yang diarahkan untuk mengembangkan jasa pengetahuan ilmiah dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Oleh karena itu, dikenal penelitian murni atau penelitian ilmiah (scientific research) dan penelitian terapan atau penelitian kebijakan (policy research). Bahkan, belakangan ini signifikansi penelitian telah mengalami pengembangan yang sangat pesat. Dewan Riset Nasional, memilih penelitian yang diarahkan untuk mengembangkan: Pengetahuan Dasar, Ilmu Pengetahuan Terapan, Teknologi, Dan Teknik Produksi
A. Dua Pilar Ilmu Pengetahuan
Penelitian pada hakikatnya adalah proses “bertanya menjawab”. Bermula pada mempertanyakan dan berakhir pada menjawab.Tetapi, antara proses bertanya dan menjawab terdapat suatu proses yang menentukan mutu jawaban yang diperoleh. Proses itu dilakukan secara deduksi dan induksi, sistematis, terkendali, empiris dan kritis. Jawaban yang akan diperoleh melalui proses penelitian harus mampu memberikan penjelasan terhadap peristiwa-peristiwa empiris yang dipertanyakan.Jika seorang ilmuan berhadapan dengan masalah-masalah sosial dalam dunia nyata, maka masalah-masalah tersebut langsung berhubungan dengan ilmu yang dikuasainya dalam dunia abstrak. Dari dunia keilmuan itu seorang ilmuan dapat memberikan penjelasan terhadap masalah-masalah yang bersangkutan. Sebaliknya, jika seorang ilmuan menyusun suatu teori yang sifatnya sangat abstrak,maka teori itu harus berhubungan dengan realita di mana teori itu dipergunakan.Dengan kata lain, teori itu harus disusun secara logis rasional, dan di pihak lain harus aktual ciri ilmu yang demikian dinyatakan oleh Babbie sebagai berikut:
Science is sometimes characterized as logico-empirical. This ugly term carries an impotant massage: two pillars af science are (1) llogic or rationality and (2) the observation of empirical fact..
Pilar pertama adalah logika atau rasionalitas,dan pilar yang kedua adalah pengamatan empiris karena ditopang oleh kedua pilar tersebut maka ciri ilmu pengetahuan adalah logis empirical . Hubungan di antara kedua pilar adalah apabila kita berhadapan dengan teori ilmu pengetahuan, maka pikiran kita berantisipasi pada kenyataan-kenyataan empiris di lapangan. Sebaliknya,apabila kita berhadapan dengan peristiwa-peristiwa factual dalam dunia empiris, maka pikiran kita tidak berhenti pada masalah-masalah praktis, tetapi terarah pada teori-teori yang pernah kita pelajari. Cara berpikir kita adalahteoritis-induktif. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan timbal balik antara teori dan peristiwa-peristiwa empiris.Teori dengan cara berpikir deduktif mengarahkan pada kenyataan empiris, dan kenyatan empiris dengan cara berpikir induktif mengarahkan kita pada teori.
Hubungan timbal balik antara teori dan praktek, antara berpikir deduksi dan induksi, tidak boleh terputus, tetapi harus selalu dikembangkan.
B. Tahap-Tahap dalam Proses Penelitian
Penelitian sebagai suatu proses deduksi dan induksi dilakukan secara sistematis, ketat, analistis, dan terkendali. Tahap-tahap dalam proses itu secara sistematis.Kita tidak boleh langsung melakukan tahap tertentu sebelum melewati tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi tahap tersebut. Konsep-konsep yang merupakan prasyarat bagi tahap tersebut. Konsep-konsep yang merupakan sasaran penelitian diuraikan secara operasional atas indikator-indikator empiris. Dengan indikator-indikator tersebut, konsep yang abstrak itu terhubungkan dengan kenyataan-kenyatan empiris.penelitian selal dikendalikan oleh hipotesis-hipotesis sebagai jawaban sementara atas pertanyan penelitian.
Sepuluh tahapan yang harus dilalui secara sistematis dalam suatu penelitian empiris:
1. Konseptualisasi Masalah
Sesuai dengan ciri ilmu yang demikian,maka proses penelitian ilmiah diawali dengan merumuskan pertanyaan penelitian atau apa yang disebut konseptualisasi masalah.Ada dua hal yang berhubungan dengan ini, yaitu masalah (substansi) yang dipertanyakan, dan pertanyaan dasar serta menjawab pertanyaan itu (metodologi). Konseptualisasi masalah menentukan tahap-tahap berikutnya. Jika terjadi kekeliruan pada tahap ini, maka seluruh tahap berikutnya akan mengalami kekeliruan.
2. Tujuan dan Hipotesis
Pada waktu kita mengajukan pertanyaan penelitian, maka sebenarnya pada waktu itu juga jawabannya sudah ada dalam pikiran kita. Jawaban tersebut memang masih diragukan, namun dapat dipakai sebagai jawaban sementara yang mengarahkan kita untuk mencari jawaban yang sebenarnya,yang disebut hipotesis penelitian.Tahap selanjutnya setelah konseptualisasi masalah adalah perumusan tujuan dan hipotesis.
3.Kerangka Dasar Penelitian
Masalahmasalah yang dihadapi oleh peneliti memerlukan suatu penjelasan yang disusun dalam kerangka teoritis tertentu. Hubungan-hubungan yang terbentuk disusun dalam sebuah kerangka dasar,sehingga kita memperoleh penjelasan secara teoritis terhadap masalah pengangguran sebagai masalah penelitian.Knsep-konsep yang disusun dalam kerangka dasar penelitian itu adalah konsep-konsep yang tercakup dalam hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Karena itu, kerangka dasar tersebut disebut juga kerangka hipotesis. Dengan dirumuskannya secara operasional konsep-konsep dalam kerangka hipotesis itu, maka diperoleh kejelasan tentang data apa yang akan dikumpulkan untuk membuktikan hipotesis penelitian.
4. Penarikan Sampel yang dibutuhkan
Supaya data untuk menguji hipotesis itu dapat dikumpulkan, maka harus jelas di mana data tersebut dikumpulkan dan strategi apa yang akan digunakan untuk mengumpulkannya. Tahap ini disebut perumusan populasi dan sampel penelitian. Hasil dari proses penarikan sapel ini adalah suau daftar responden sebagai sampel dari proses penelitian.
5. Konstruksi Penelitian
Selanjutnya perlu ditetapkan bagaimana mengumpulkan data dari sampel yang ditetapkan itu. Hal ini berhubungan dengan metode pengumpulan data dan alat-alat (instrumen) yang digunakan untuk mengumpulkannya. Tahap ini disebut pengumpulan data dan konstruksi instrument. Instrumen penelitiannya disusun sesuai dengan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, seperti pedoman wawancara, daftar kuesioner, pedoman pengamatan, dan sebagainya.
6. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dalam rangka pembuktian hipotesis. Untuk itu perlu ditentukan metode pengumpulan data yang sesuai dengan setiap variabel,supaya diperoleh informasi yang valid dan dapat dipercaya. Pengumpulan data dilakukan terhadap responden yang menjadi sampel penelitian.
7. Pengolahan Data
Proses pengolahan data mentah menjadi data yang dapat dianalisis. Pengolahan data ini dilakukan dalam 3 tahap,yaitu editing (penyuntingan), coding (pemberian kode),dan menyusunnya dalam master sheet (table induk).
8. Analisis Pendahuluan
Proses penganalisaan data yang telah diolah dengan tujuan untuk untuk menguji sebuah hipotesis. Analisis data penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu analisis pendahuluan dan analisis lanjut. Analisis pendahuluan bersifat deskriptif dan terbatas pada data sampel. Maksud dari analisis adalah untuk mendeksripsikan setiap pada variabel pada sampel penelitian, dan untuk menentukan alat analisis yang akan dipakai pada analisis selanjutnya.
9. Analisis Lanjut
Setelah analisis pendahuluan adalah analisis inferensial yang diarahkan pada pengujian hipotesis. Alat-alat analisis yang dipakai disesuaikan dengan hipotesis operasional yang telah dirumuskan sebelumnya. Kalau hipotesis yang diuji hanya mencakup satu variabel, maka dipergunakan Uni Variate Analisys. Kalau hipotesis mencakup dua variabel, maka dipergunakan Bivariate Analisys. Dan kalau mencakup lebih dari dua variabel, maka dipergunakan Mulltivariate Analysis.
10.Interpretasi
Hasil analisis ini kemudian diinterpretasikan melalui proses pembahasan. Tahap ini disebut analisis dan interpretasi hasil penelitian. Tahap terakhir adalah melaporkan hasil penelitian itu dalam bentuk tertulis. Proses penelitian ini dapat disusun melalui sepuluh tahap ,yaitu (1) konseptualisasi masalah, (2) tujuan da hipotesis, (3) kerangka dasar penelitian, (4) penarikan sampel atau sampling, (5) konstruksi instrument, (6) pengumpulan data, (7) pengolahan data, (8) analisis pendahuluan,(9) analisis lanjut, dan (10) interpretasi.
C. Komponen Informasi dan Komponen Metodologi
Tahap-tahap yang ditempuh dalam proses di atas tidak membedakan tahap yang bersifat hasil temuan dengan tahap yang bersifat cara atau proses menemukan. Wallace membedakan kedua jenis sifat tersebut dalam dua macam komponen. Hasil temuan itu disebut komponen informasi, dan cara menemukannya disebut komponen metodologi. Dengan pembedaan seperti itu maka keseluruhan proses penelitian terdiri atas lima komponen informasi dan enam komponen metodologi. Wallace selanjutnya mengatakan:
Individual observationsare highly specific and essentially unique items of informations whose shynthesis into the more general form denoted by empirical generalizations is accomplished by measurement, sample summarazisa-tion and parameter estimation. Empirical generalizations, in turn, are items of information that can be synthesized into theory via concept formation, proposition formation and profosition arrangement. A theory, the most general type of information , is transformable into new hypotheses through the method of logical deduction . An empirical hypotheses is an information item that becomes transformed into new observations via interpretation of hypothesis into observables, instrumatation, scalling and sampling. These new observations are transformable ino new empirical generalizations. Again, via measurement,sample summarization and parameter estimation, and the hypothesis that occasioned their construction may then be tested for conformity to them. Such tests may relyst in a new informational outcome: named a decision to acceptor reject the truth of the tesped hypothesis. Finally, it is inferred that the latter gives confirmation, modification or rejected of theory.
Kelima komponen informasi dalam tahap-tahap penelitian sebagaimana dikatakan diatas adalah:
1. teori;
2. hipotesis;
3. pengamatan;
4. generalisasi empiris;
5. penerimaan atau penolakan hipotesis.
Informasi-informasi tersebut ditemukan melalui enam komponen metodologi, yaitu:
a. deduksi logis;
b. interpretasi hipotesis, instrumentasi, skala pengukuran, sampling;
c. penyederhanaan (dengan statistik, estimasi parameter);
d. pembentukan teori dan proposisi;
e. pengujian hipotesis;
f. inferensial logis.
Pada mulanya penelitian merupakan penyaluran hasrat keingintahuan manusia terhadap sesuatu. Sesuatu itu adalah gejala-gejala alam,atau gejala-gejala perilaku manusia,atau gejala-gejala pemikiran dan kerohanian. Gejala-gejala itu, secara keseluruhan adalah kehidupan ciptaan Tuhan. Selanjutnya penelitian itu menjadi kegiatan ilmiah, yang memiliki cakupan tersendiri dan berhubungan dengan kegiatan lainnya.
Penelitian memiliki berbagai perlengkapan, yang secara garis besar terdiri atas unsur-unsur informasi dan unsure-unsur metodologi. Penelitian dilengkapi dengan unsur-unsur informasi tentang sesuatu itu yang beraneka ragam dan hirarkial, dari yang kongkret sampai yang abstrak; mulai dari gejala dan fakta sampai konsep, hipotesis, dan teori; bahkan hokum teori dan dalil. Ia juga dilengkapi dengan berbagai metode pada tiap tahapan kegiatan, sehingga menjadi cara kerja ilmiah yang memiliki tarap ketepatan dan kecermatan yang tinggi. Akhirnya, ia menjadi pranata sosial dalam memenuhi salah satu kebutuhan manusia dalam pergaulan hidup mereka. Ia menjadi tulang punggung dalam pengembangan pengetahuan ilmiah dan dapat menyumbangkan jasa bagi kehidupan manusia.
Apabila penelitian itu akan dilakukan, ada tiga pertanyaan yang amat penting. Ketiga pertanyaan itu memerlukan jawaban sebelum penelitian itu dirancang dan dipersiapkan. Pertanyaan pertama, “Apa yang akan diteliti? “Apabila pertanyaan itu sudah dijawab, muncul pertanyaan kedua, “Bagaimana penelitian itu akan dilakukan? “ Apabila kedua pertanyan itu telah dijawab, muncul pertanyaan ketiga, “Untuk apa penelitian itu dilakukan?”
Pertanyaan pertama berkenaan denan masalah penelitian, yang bertitik tolak dari wilayah penelitian (research area). Sedangkan wilayah penelitian berada dalam cakupan dan batasan bidang ilmu tertentu. Berkenaan dengan hal itu, diperlukan penentuan wilayah penelitian dalam bidang ilmu tersebut. Dengan cara demikian, akan mempermudah dalam menentukan unsure-unsur informasi,seperti masalah penelitian, kerangka berfikir, konsep, dan variabel (peubah) penelitian.
Pertanyaan kedua berkenaan denga unsur-unsur metodologi yang tercakup di dalam bidang ilmu itu. Unsur-unsur metodologi itu mencakup, antara lain, penentu metode penelitian, penentu sumber data, cara pengumpulan data, dan pemilihan model analisis data. Metode penelitian, misalnya, sangat beraneka ragam. Masing-masing metode memiliki kecocokan dengan wilayah dan masalah penelitian tertentu. Disamping itu, ia memiliki ciri, kekuatan dan kelemahan, serta tahapan, masing-masing. Berkenaan dengan hal itu, dalam setiap kegiatan penelitian, peneliti dituntut untuk memilih metode penelitian yang sesuai dan paling tepat.
Pertanyaan ketiga berkenaan dengan kegunaan atau signifikasi penelitian. Secara umum, signifikasi penelitian itu terdiri atas dua macam.
Pertama, penelitian yang diarahkan untuk mengembamgkan pengetahuan ilmiah, baik unsur-unsur informasinya maupun unsur-unsur metodologinya. Kedua, penelitian yang diarahkan untuk mengembangkan jasa pengetahuan ilmiah dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.
Oleh karena itu, dikenal penelitian murni atau penelitian ilmiah (scientific research) dan penelitian terapan atau penelitian kebijakan (policy research). Bahkan, belakangan ini signifikansi penelitian telah mengalami pengembangan yang sangat pesat. Dewan Riset Nasional, memilih penelitian yang diarahkan untuk mengembangkan: Pengetahuan Dasar, Ilmu Pengetahuan Terapan, Teknologi, Dan Teknik Produksi
A. Dua Pilar Ilmu Pengetahuan
Penelitian pada hakikatnya adalah proses “bertanya menjawab”. Bermula pada mempertanyakan dan berakhir pada menjawab.Tetapi, antara proses bertanya dan menjawab terdapat suatu proses yang menentukan mutu jawaban yang diperoleh. Proses itu dilakukan secara deduksi dan induksi, sistematis, terkendali, empiris dan kritis. Jawaban yang akan diperoleh melalui proses penelitian harus mampu memberikan penjelasan terhadap peristiwa-peristiwa empiris yang dipertanyakan.Jika seorang ilmuan berhadapan dengan masalah-masalah sosial dalam dunia nyata, maka masalah-masalah tersebut langsung berhubungan dengan ilmu yang dikuasainya dalam dunia abstrak. Dari dunia keilmuan itu seorang ilmuan dapat memberikan penjelasan terhadap masalah-masalah yang bersangkutan. Sebaliknya, jika seorang ilmuan menyusun suatu teori yang sifatnya sangat abstrak,maka teori itu harus berhubungan dengan realita di mana teori itu dipergunakan.Dengan kata lain, teori itu harus disusun secara logis rasional, dan di pihak lain harus aktual ciri ilmu yang demikian dinyatakan oleh Babbie sebagai berikut:
Science is sometimes characterized as logico-empirical. This ugly term carries an impotant massage: two pillars af science are (1) llogic or rationality and (2) the observation of empirical fact..
Pilar pertama adalah logika atau rasionalitas,dan pilar yang kedua adalah pengamatan empiris karena ditopang oleh kedua pilar tersebut maka ciri ilmu pengetahuan adalah logis empirical . Hubungan di antara kedua pilar adalah apabila kita berhadapan dengan teori ilmu pengetahuan, maka pikiran kita berantisipasi pada kenyataan-kenyataan empiris di lapangan. Sebaliknya,apabila kita berhadapan dengan peristiwa-peristiwa factual dalam dunia empiris, maka pikiran kita tidak berhenti pada masalah-masalah praktis, tetapi terarah pada teori-teori yang pernah kita pelajari. Cara berpikir kita adalahteoritis-induktif. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan timbal balik antara teori dan peristiwa-peristiwa empiris.Teori dengan cara berpikir deduktif mengarahkan pada kenyataan empiris, dan kenyatan empiris dengan cara berpikir induktif mengarahkan kita pada teori.
Hubungan timbal balik antara teori dan praktek, antara berpikir deduksi dan induksi, tidak boleh terputus, tetapi harus selalu dikembangkan.
B. Tahap-Tahap dalam Proses Penelitian
Penelitian sebagai suatu proses deduksi dan induksi dilakukan secara sistematis, ketat, analistis, dan terkendali. Tahap-tahap dalam proses itu secara sistematis.Kita tidak boleh langsung melakukan tahap tertentu sebelum melewati tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi tahap tersebut. Konsep-konsep yang merupakan prasyarat bagi tahap tersebut. Konsep-konsep yang merupakan sasaran penelitian diuraikan secara operasional atas indikator-indikator empiris. Dengan indikator-indikator tersebut, konsep yang abstrak itu terhubungkan dengan kenyataan-kenyatan empiris.penelitian selal dikendalikan oleh hipotesis-hipotesis sebagai jawaban sementara atas pertanyan penelitian.
Sepuluh tahapan yang harus dilalui secara sistematis dalam suatu penelitian empiris:
1. Konseptualisasi Masalah
Sesuai dengan ciri ilmu yang demikian,maka proses penelitian ilmiah diawali dengan merumuskan pertanyaan penelitian atau apa yang disebut konseptualisasi masalah.Ada dua hal yang berhubungan dengan ini, yaitu masalah (substansi) yang dipertanyakan, dan pertanyaan dasar serta menjawab pertanyaan itu (metodologi). Konseptualisasi masalah menentukan tahap-tahap berikutnya. Jika terjadi kekeliruan pada tahap ini, maka seluruh tahap berikutnya akan mengalami kekeliruan.
2. Tujuan dan Hipotesis
Pada waktu kita mengajukan pertanyaan penelitian, maka sebenarnya pada waktu itu juga jawabannya sudah ada dalam pikiran kita. Jawaban tersebut memang masih diragukan, namun dapat dipakai sebagai jawaban sementara yang mengarahkan kita untuk mencari jawaban yang sebenarnya,yang disebut hipotesis penelitian.Tahap selanjutnya setelah konseptualisasi masalah adalah perumusan tujuan dan hipotesis.
3.Kerangka Dasar Penelitian
Masalahmasalah yang dihadapi oleh peneliti memerlukan suatu penjelasan yang disusun dalam kerangka teoritis tertentu. Hubungan-hubungan yang terbentuk disusun dalam sebuah kerangka dasar,sehingga kita memperoleh penjelasan secara teoritis terhadap masalah pengangguran sebagai masalah penelitian.Knsep-konsep yang disusun dalam kerangka dasar penelitian itu adalah konsep-konsep yang tercakup dalam hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Karena itu, kerangka dasar tersebut disebut juga kerangka hipotesis. Dengan dirumuskannya secara operasional konsep-konsep dalam kerangka hipotesis itu, maka diperoleh kejelasan tentang data apa yang akan dikumpulkan untuk membuktikan hipotesis penelitian.
4. Penarikan Sampel yang dibutuhkan
Supaya data untuk menguji hipotesis itu dapat dikumpulkan, maka harus jelas di mana data tersebut dikumpulkan dan strategi apa yang akan digunakan untuk mengumpulkannya. Tahap ini disebut perumusan populasi dan sampel penelitian. Hasil dari proses penarikan sapel ini adalah suau daftar responden sebagai sampel dari proses penelitian.
5. Konstruksi Penelitian
Selanjutnya perlu ditetapkan bagaimana mengumpulkan data dari sampel yang ditetapkan itu. Hal ini berhubungan dengan metode pengumpulan data dan alat-alat (instrumen) yang digunakan untuk mengumpulkannya. Tahap ini disebut pengumpulan data dan konstruksi instrument. Instrumen penelitiannya disusun sesuai dengan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, seperti pedoman wawancara, daftar kuesioner, pedoman pengamatan, dan sebagainya.
6. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dalam rangka pembuktian hipotesis. Untuk itu perlu ditentukan metode pengumpulan data yang sesuai dengan setiap variabel,supaya diperoleh informasi yang valid dan dapat dipercaya. Pengumpulan data dilakukan terhadap responden yang menjadi sampel penelitian.
7. Pengolahan Data
Proses pengolahan data mentah menjadi data yang dapat dianalisis. Pengolahan data ini dilakukan dalam 3 tahap,yaitu editing (penyuntingan), coding (pemberian kode),dan menyusunnya dalam master sheet (table induk).
8. Analisis Pendahuluan
Proses penganalisaan data yang telah diolah dengan tujuan untuk untuk menguji sebuah hipotesis. Analisis data penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu analisis pendahuluan dan analisis lanjut. Analisis pendahuluan bersifat deskriptif dan terbatas pada data sampel. Maksud dari analisis adalah untuk mendeksripsikan setiap pada variabel pada sampel penelitian, dan untuk menentukan alat analisis yang akan dipakai pada analisis selanjutnya.
9. Analisis Lanjut
Setelah analisis pendahuluan adalah analisis inferensial yang diarahkan pada pengujian hipotesis. Alat-alat analisis yang dipakai disesuaikan dengan hipotesis operasional yang telah dirumuskan sebelumnya. Kalau hipotesis yang diuji hanya mencakup satu variabel, maka dipergunakan Uni Variate Analisys. Kalau hipotesis mencakup dua variabel, maka dipergunakan Bivariate Analisys. Dan kalau mencakup lebih dari dua variabel, maka dipergunakan Mulltivariate Analysis.
10.Interpretasi
Hasil analisis ini kemudian diinterpretasikan melalui proses pembahasan. Tahap ini disebut analisis dan interpretasi hasil penelitian. Tahap terakhir adalah melaporkan hasil penelitian itu dalam bentuk tertulis. Proses penelitian ini dapat disusun melalui sepuluh tahap ,yaitu (1) konseptualisasi masalah, (2) tujuan da hipotesis, (3) kerangka dasar penelitian, (4) penarikan sampel atau sampling, (5) konstruksi instrument, (6) pengumpulan data, (7) pengolahan data, (8) analisis pendahuluan,(9) analisis lanjut, dan (10) interpretasi.
C. Komponen Informasi dan Komponen Metodologi
Tahap-tahap yang ditempuh dalam proses di atas tidak membedakan tahap yang bersifat hasil temuan dengan tahap yang bersifat cara atau proses menemukan. Wallace membedakan kedua jenis sifat tersebut dalam dua macam komponen. Hasil temuan itu disebut komponen informasi, dan cara menemukannya disebut komponen metodologi. Dengan pembedaan seperti itu maka keseluruhan proses penelitian terdiri atas lima komponen informasi dan enam komponen metodologi. Wallace selanjutnya mengatakan:
Individual observationsare highly specific and essentially unique items of informations whose shynthesis into the more general form denoted by empirical generalizations is accomplished by measurement, sample summarazisa-tion and parameter estimation. Empirical generalizations, in turn, are items of information that can be synthesized into theory via concept formation, proposition formation and profosition arrangement. A theory, the most general type of information , is transformable into new hypotheses through the method of logical deduction . An empirical hypotheses is an information item that becomes transformed into new observations via interpretation of hypothesis into observables, instrumatation, scalling and sampling. These new observations are transformable ino new empirical generalizations. Again, via measurement,sample summarization and parameter estimation, and the hypothesis that occasioned their construction may then be tested for conformity to them. Such tests may relyst in a new informational outcome: named a decision to acceptor reject the truth of the tesped hypothesis. Finally, it is inferred that the latter gives confirmation, modification or rejected of theory.
Kelima komponen informasi dalam tahap-tahap penelitian sebagaimana dikatakan diatas adalah:
1. teori;
2. hipotesis;
3. pengamatan;
4. generalisasi empiris;
5. penerimaan atau penolakan hipotesis.
Informasi-informasi tersebut ditemukan melalui enam komponen metodologi, yaitu:
a. deduksi logis;
b. interpretasi hipotesis, instrumentasi, skala pengukuran, sampling;
c. penyederhanaan (dengan statistik, estimasi parameter);
d. pembentukan teori dan proposisi;
e. pengujian hipotesis;
f. inferensial logis.
Langganan:
Komentar (Atom)