Selasa, 02 Maret 2010

PENELITIAN SEBAGAI PROSES ILMIAH

PENELITIAN SEBAGAI PROSES ILMIAH
Pada mulanya penelitian merupakan penyaluran hasrat keingintahuan manusia terhadap sesuatu. Sesuatu itu adalah gejala-gejala alam,atau gejala-gejala perilaku manusia,atau gejala-gejala pemikiran dan kerohanian. Gejala-gejala itu, secara keseluruhan adalah kehidupan ciptaan Tuhan. Selanjutnya penelitian itu menjadi kegiatan ilmiah, yang memiliki cakupan tersendiri dan berhubungan dengan kegiatan lainnya.

Penelitian memiliki berbagai perlengkapan, yang secara garis besar terdiri atas unsur-unsur informasi dan unsure-unsur metodologi. Penelitian dilengkapi dengan unsur-unsur informasi tentang sesuatu itu yang beraneka ragam dan hirarkial, dari yang kongkret sampai yang abstrak; mulai dari gejala dan fakta sampai konsep, hipotesis, dan teori; bahkan hokum teori dan dalil. Ia juga dilengkapi dengan berbagai metode pada tiap tahapan kegiatan, sehingga menjadi cara kerja ilmiah yang memiliki tarap ketepatan dan kecermatan yang tinggi. Akhirnya, ia menjadi pranata sosial dalam memenuhi salah satu kebutuhan manusia dalam pergaulan hidup mereka. Ia menjadi tulang punggung dalam pengembangan pengetahuan ilmiah dan dapat menyumbangkan jasa bagi kehidupan manusia.

Apabila penelitian itu akan dilakukan, ada tiga pertanyaan yang amat penting. Ketiga pertanyaan itu memerlukan jawaban sebelum penelitian itu dirancang dan dipersiapkan. Pertanyaan pertama, “Apa yang akan diteliti? “Apabila pertanyaan itu sudah dijawab, muncul pertanyaan kedua, “Bagaimana penelitian itu akan dilakukan? “ Apabila kedua pertanyan itu telah dijawab, muncul pertanyaan ketiga, “Untuk apa penelitian itu dilakukan?”

Pertanyaan pertama berkenaan denan masalah penelitian, yang bertitik tolak dari wilayah penelitian (research area). Sedangkan wilayah penelitian berada dalam cakupan dan batasan bidang ilmu tertentu. Berkenaan dengan hal itu, diperlukan penentuan wilayah penelitian dalam bidang ilmu tersebut. Dengan cara demikian, akan mempermudah dalam menentukan unsure-unsur informasi,seperti masalah penelitian, kerangka berfikir, konsep, dan variabel (peubah) penelitian.
Pertanyaan kedua berkenaan denga unsur-unsur metodologi yang tercakup di dalam bidang ilmu itu. Unsur-unsur metodologi itu mencakup, antara lain, penentu metode penelitian, penentu sumber data, cara pengumpulan data, dan pemilihan model analisis data. Metode penelitian, misalnya, sangat beraneka ragam. Masing-masing metode memiliki kecocokan dengan wilayah dan masalah penelitian tertentu. Disamping itu, ia memiliki ciri, kekuatan dan kelemahan, serta tahapan, masing-masing. Berkenaan dengan hal itu, dalam setiap kegiatan penelitian, peneliti dituntut untuk memilih metode penelitian yang sesuai dan paling tepat.

Pertanyaan ketiga berkenaan dengan kegunaan atau signifikasi penelitian. Secara umum, signifikasi penelitian itu terdiri atas dua macam.
Pertama, penelitian yang diarahkan untuk mengembamgkan pengetahuan ilmiah, baik unsur-unsur informasinya maupun unsur-unsur metodologinya. Kedua, penelitian yang diarahkan untuk mengembangkan jasa pengetahuan ilmiah dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia.

Oleh karena itu, dikenal penelitian murni atau penelitian ilmiah (scientific research) dan penelitian terapan atau penelitian kebijakan (policy research). Bahkan, belakangan ini signifikansi penelitian telah mengalami pengembangan yang sangat pesat. Dewan Riset Nasional, memilih penelitian yang diarahkan untuk mengembangkan: Pengetahuan Dasar, Ilmu Pengetahuan Terapan, Teknologi, Dan Teknik Produksi

A. Dua Pilar Ilmu Pengetahuan

Penelitian pada hakikatnya adalah proses “bertanya menjawab”. Bermula pada mempertanyakan dan berakhir pada menjawab.Tetapi, antara proses bertanya dan menjawab terdapat suatu proses yang menentukan mutu jawaban yang diperoleh. Proses itu dilakukan secara deduksi dan induksi, sistematis, terkendali, empiris dan kritis. Jawaban yang akan diperoleh melalui proses penelitian harus mampu memberikan penjelasan terhadap peristiwa-peristiwa empiris yang dipertanyakan.Jika seorang ilmuan berhadapan dengan masalah-masalah sosial dalam dunia nyata, maka masalah-masalah tersebut langsung berhubungan dengan ilmu yang dikuasainya dalam dunia abstrak. Dari dunia keilmuan itu seorang ilmuan dapat memberikan penjelasan terhadap masalah-masalah yang bersangkutan. Sebaliknya, jika seorang ilmuan menyusun suatu teori yang sifatnya sangat abstrak,maka teori itu harus berhubungan dengan realita di mana teori itu dipergunakan.Dengan kata lain, teori itu harus disusun secara logis rasional, dan di pihak lain harus aktual ciri ilmu yang demikian dinyatakan oleh Babbie sebagai berikut:

Science is sometimes characterized as logico-empirical. This ugly term carries an impotant massage: two pillars af science are (1) llogic or rationality and (2) the observation of empirical fact..

Pilar pertama adalah logika atau rasionalitas,dan pilar yang kedua adalah pengamatan empiris karena ditopang oleh kedua pilar tersebut maka ciri ilmu pengetahuan adalah logis empirical . Hubungan di antara kedua pilar adalah apabila kita berhadapan dengan teori ilmu pengetahuan, maka pikiran kita berantisipasi pada kenyataan-kenyataan empiris di lapangan. Sebaliknya,apabila kita berhadapan dengan peristiwa-peristiwa factual dalam dunia empiris, maka pikiran kita tidak berhenti pada masalah-masalah praktis, tetapi terarah pada teori-teori yang pernah kita pelajari. Cara berpikir kita adalahteoritis-induktif. Hal ini menunjukkan bahwa ada hubungan timbal balik antara teori dan peristiwa-peristiwa empiris.Teori dengan cara berpikir deduktif mengarahkan pada kenyataan empiris, dan kenyatan empiris dengan cara berpikir induktif mengarahkan kita pada teori.
Hubungan timbal balik antara teori dan praktek, antara berpikir deduksi dan induksi, tidak boleh terputus, tetapi harus selalu dikembangkan.

B. Tahap-Tahap dalam Proses Penelitian
Penelitian sebagai suatu proses deduksi dan induksi dilakukan secara sistematis, ketat, analistis, dan terkendali. Tahap-tahap dalam proses itu secara sistematis.Kita tidak boleh langsung melakukan tahap tertentu sebelum melewati tahap sebelumnya yang merupakan prasyarat bagi tahap tersebut. Konsep-konsep yang merupakan prasyarat bagi tahap tersebut. Konsep-konsep yang merupakan sasaran penelitian diuraikan secara operasional atas indikator-indikator empiris. Dengan indikator-indikator tersebut, konsep yang abstrak itu terhubungkan dengan kenyataan-kenyatan empiris.penelitian selal dikendalikan oleh hipotesis-hipotesis sebagai jawaban sementara atas pertanyan penelitian.
Sepuluh tahapan yang harus dilalui secara sistematis dalam suatu penelitian empiris:

1. Konseptualisasi Masalah
Sesuai dengan ciri ilmu yang demikian,maka proses penelitian ilmiah diawali dengan merumuskan pertanyaan penelitian atau apa yang disebut konseptualisasi masalah.Ada dua hal yang berhubungan dengan ini, yaitu masalah (substansi) yang dipertanyakan, dan pertanyaan dasar serta menjawab pertanyaan itu (metodologi). Konseptualisasi masalah menentukan tahap-tahap berikutnya. Jika terjadi kekeliruan pada tahap ini, maka seluruh tahap berikutnya akan mengalami kekeliruan.

2. Tujuan dan Hipotesis
Pada waktu kita mengajukan pertanyaan penelitian, maka sebenarnya pada waktu itu juga jawabannya sudah ada dalam pikiran kita. Jawaban tersebut memang masih diragukan, namun dapat dipakai sebagai jawaban sementara yang mengarahkan kita untuk mencari jawaban yang sebenarnya,yang disebut hipotesis penelitian.Tahap selanjutnya setelah konseptualisasi masalah adalah perumusan tujuan dan hipotesis.

3.Kerangka Dasar Penelitian
Masalahmasalah yang dihadapi oleh peneliti memerlukan suatu penjelasan yang disusun dalam kerangka teoritis tertentu. Hubungan-hubungan yang terbentuk disusun dalam sebuah kerangka dasar,sehingga kita memperoleh penjelasan secara teoritis terhadap masalah pengangguran sebagai masalah penelitian.Knsep-konsep yang disusun dalam kerangka dasar penelitian itu adalah konsep-konsep yang tercakup dalam hipotesis-hipotesis yang telah dirumuskan sebelumnya. Karena itu, kerangka dasar tersebut disebut juga kerangka hipotesis. Dengan dirumuskannya secara operasional konsep-konsep dalam kerangka hipotesis itu, maka diperoleh kejelasan tentang data apa yang akan dikumpulkan untuk membuktikan hipotesis penelitian.

4. Penarikan Sampel yang dibutuhkan
Supaya data untuk menguji hipotesis itu dapat dikumpulkan, maka harus jelas di mana data tersebut dikumpulkan dan strategi apa yang akan digunakan untuk mengumpulkannya. Tahap ini disebut perumusan populasi dan sampel penelitian. Hasil dari proses penarikan sapel ini adalah suau daftar responden sebagai sampel dari proses penelitian.

5. Konstruksi Penelitian
Selanjutnya perlu ditetapkan bagaimana mengumpulkan data dari sampel yang ditetapkan itu. Hal ini berhubungan dengan metode pengumpulan data dan alat-alat (instrumen) yang digunakan untuk mengumpulkannya. Tahap ini disebut pengumpulan data dan konstruksi instrument. Instrumen penelitiannya disusun sesuai dengan metode yang digunakan untuk mengumpulkan data, seperti pedoman wawancara, daftar kuesioner, pedoman pengamatan, dan sebagainya.
6. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dalam rangka pembuktian hipotesis. Untuk itu perlu ditentukan metode pengumpulan data yang sesuai dengan setiap variabel,supaya diperoleh informasi yang valid dan dapat dipercaya. Pengumpulan data dilakukan terhadap responden yang menjadi sampel penelitian.

7. Pengolahan Data
Proses pengolahan data mentah menjadi data yang dapat dianalisis. Pengolahan data ini dilakukan dalam 3 tahap,yaitu editing (penyuntingan), coding (pemberian kode),dan menyusunnya dalam master sheet (table induk).

8. Analisis Pendahuluan
Proses penganalisaan data yang telah diolah dengan tujuan untuk untuk menguji sebuah hipotesis. Analisis data penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu analisis pendahuluan dan analisis lanjut. Analisis pendahuluan bersifat deskriptif dan terbatas pada data sampel. Maksud dari analisis adalah untuk mendeksripsikan setiap pada variabel pada sampel penelitian, dan untuk menentukan alat analisis yang akan dipakai pada analisis selanjutnya.

9. Analisis Lanjut
Setelah analisis pendahuluan adalah analisis inferensial yang diarahkan pada pengujian hipotesis. Alat-alat analisis yang dipakai disesuaikan dengan hipotesis operasional yang telah dirumuskan sebelumnya. Kalau hipotesis yang diuji hanya mencakup satu variabel, maka dipergunakan Uni Variate Analisys. Kalau hipotesis mencakup dua variabel, maka dipergunakan Bivariate Analisys. Dan kalau mencakup lebih dari dua variabel, maka dipergunakan Mulltivariate Analysis.

10.Interpretasi
Hasil analisis ini kemudian diinterpretasikan melalui proses pembahasan. Tahap ini disebut analisis dan interpretasi hasil penelitian. Tahap terakhir adalah melaporkan hasil penelitian itu dalam bentuk tertulis. Proses penelitian ini dapat disusun melalui sepuluh tahap ,yaitu (1) konseptualisasi masalah, (2) tujuan da hipotesis, (3) kerangka dasar penelitian, (4) penarikan sampel atau sampling, (5) konstruksi instrument, (6) pengumpulan data, (7) pengolahan data, (8) analisis pendahuluan,(9) analisis lanjut, dan (10) interpretasi.


C. Komponen Informasi dan Komponen Metodologi
Tahap-tahap yang ditempuh dalam proses di atas tidak membedakan tahap yang bersifat hasil temuan dengan tahap yang bersifat cara atau proses menemukan. Wallace membedakan kedua jenis sifat tersebut dalam dua macam komponen. Hasil temuan itu disebut komponen informasi, dan cara menemukannya disebut komponen metodologi. Dengan pembedaan seperti itu maka keseluruhan proses penelitian terdiri atas lima komponen informasi dan enam komponen metodologi. Wallace selanjutnya mengatakan:
Individual observationsare highly specific and essentially unique items of informations whose shynthesis into the more general form denoted by empirical generalizations is accomplished by measurement, sample summarazisa-tion and parameter estimation. Empirical generalizations, in turn, are items of information that can be synthesized into theory via concept formation, proposition formation and profosition arrangement. A theory, the most general type of information , is transformable into new hypotheses through the method of logical deduction . An empirical hypotheses is an information item that becomes transformed into new observations via interpretation of hypothesis into observables, instrumatation, scalling and sampling. These new observations are transformable ino new empirical generalizations. Again, via measurement,sample summarization and parameter estimation, and the hypothesis that occasioned their construction may then be tested for conformity to them. Such tests may relyst in a new informational outcome: named a decision to acceptor reject the truth of the tesped hypothesis. Finally, it is inferred that the latter gives confirmation, modification or rejected of theory.
Kelima komponen informasi dalam tahap-tahap penelitian sebagaimana dikatakan diatas adalah:
1. teori;
2. hipotesis;
3. pengamatan;
4. generalisasi empiris;
5. penerimaan atau penolakan hipotesis.
Informasi-informasi tersebut ditemukan melalui enam komponen metodologi, yaitu:
a. deduksi logis;
b. interpretasi hipotesis, instrumentasi, skala pengukuran, sampling;
c. penyederhanaan (dengan statistik, estimasi parameter);
d. pembentukan teori dan proposisi;
e. pengujian hipotesis;
f. inferensial logis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar